Mengunjungi Desa Religi Nyatnyono Ungaran, Mulai dari Ziarah Hingga Sendang Kalimat Thayyibah
Ketika mendengar kata “Semarang,” mungkin yang terlintas di pikiran banyak orang adalah daerah yang kaya akan ratusan destinasi wisata. Namun, ternyata Semarang tidak menghadirkan pesona keindahan alamnya saja, melainkan juga memiliki beberapa tempat wisata religi. Salah satunya adalah wisata religi di Nyatnyono, Ungaran yang mana terdapat makam waliyullah Hasan Munadi dan makam putranya, waliyullah Hasan Dipuro.
Makam-makam wali tersebut hingga kini masih dirawat dengan baik oleh masyarakat. Makam waliyullah tersebut terletak di atas bukit dengan pemandangan yang sangat indah.
Sejarah Masjid dan Desa Nyatnyono
Nyatnyono, pada masa lampau, awalnya merupakan sebuah masjid dan kini telah berkembang menjadi sebuah desa. Di Desa Nyatnyono ini, terdapat sebuah masjid yang menjadi peninggalan dari Kyai Hasan Munadi dan putranya, Kyai Hasan Dipuro.
Kisah dimulai ketika Hasan Munadi muda menjadi seorang santri bersama Raha Demak Bintoro Sunan Bonang, Raden Fattah. Setelah keduanya dianggap memiliki ilmu yang cukup oleh Sunan Bonang, keduanya diberi tugas masing-masing untuk menyebarkan ilmu.
Raden Fattah diberi tanggung jawab untuk mendirikan pesantren di Glagah Wangi, yang sekarang dikenal sebagai Bintoro. Sementara itu, Hasan Munadi diberi perintah untuk kembali ke kampung halamannya, Semarang dan sekitarnya, untuk menyebarkan ilmu.
Nama desa “Nyatnyono” merujuk pada kampung halaman Kyai Hasan Munadi. Dalam bahasa Indonesia, “Nyatnyono” berarti “tiba-tiba ada.” Ceritanya bermula dari pengalaman Kyai Hasan Munadi yang sedang melakukan khalwat (retret spiritual) untuk menyebarkan Islam. Dalam khalwat tersebut, ia mendapatkan isyarat untuk mengunjungi suatu tempat yang ternyata masih belum memiliki bangunan masjid.
Hingga pada suatu saat, Kyai Hasan Munadi tiba di tempat yang diisyaratkan dalam khalwatnya, dan tiba-tiba saja sebuah masjid sudah berdiri kokoh di lereng Gunung Sukroloyo.
Makam Kyai Hasan Dipuro
Kyai Hasan Dipuro merupakan anak dari Kyai Hasan Munadi, dan keduanya dimakamkan berdekatan dengan satu sama lain, hanya dipisahkan oleh jalan menuju parkiran. Untuk mencapai makam dan masjid, para pengunjung, termasuk Urbanreaders, harus menaiki anak tangga karena kedua tempat tersebut berada di ketinggian di atas tempat parkir.
Sendang Mata Air Nyatnyono
Menariknya, di sekitar lokasi makam terdapat sebuah pemandian yang airnya berasal dari sendang peninggalan Kyai Hasan Munadi. Letak sendang tersebut tidak jauh dari makam.
Sendang Nyanyono memiliki sejarah yang erat dengan Kyai Hasan Munadi. Awalnya, sendang ini berasal dari tongkat Hasan Munadi yang ditancapkan ke tanah. Ketika tongkat dicabut, muncullah mata air yang kini menjadi sendang.
Selain itu, sumber air yang dikenal dengan nama Sendang Kalimah Toyyibah ini terletak di bawah pohon beringin yang sudah berusia puluhan tahun. Meskipun musim kemarau panjang, sumber air ini tidak pernah kering.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.